kamar gelap

Photo Albumruang pamer Rakoes : episode Tubuh Perang Mar 25, '08 5:52 PM
for everyone
Tony Broer mementaskan sebuah Repertoar berjudul "Tubuh Perang" kali ii ia tidak dengan Teater Payung Hitam, tapi Solo seorang diri. Dipentaskan di Studio Teater STSI Bandung.

Berikut ini sebuah Tulisan saya mengenai repertoar "Tubuh Perang" yang pernah di muat di majalah Gong.

MENGGUGAT PERANG DALAM DIALEKTIKA,
TUBUH LAHIR TUBUH PERANG [1]

Oleh : Rakhmat Koes, Seniman Teater


Seberkas cahaya yang redup membias dan jatuh menyinari lingkaran manusia dalam sebuah penantian. Sementara pada screen yang menjadi background nampak montase yang membuat pilu siapa saja yang melihatnya, foto-foto korban perang dunia ke –II yang dihadirkan bergantian dalam tempo yang cepat dan diiringi sayup lagu imagine sebuah nomor dari John Lennon malah semakin membuat miris hati dan nalar. Suasana pentas dihentakan oleh sebuah ledakan yang terpancar dari projector, lalu nampak sekelompok manusia dengan wajah terbalut plester, dan tubuh bertaburan rajutan bunga dalam samar cahaya yang membentuk sebuah siluet. Tubuh-tubuh malang mulai bergerak dalam kegetiran dan pencarian komunal membangun sebuah bahasa tubuh yang serempak dilakukan. Maka tercerminlah tubuh waspada dalam partisi pertama dari pentas Tubuh Lahir Tubuh Perang” Karya / Sutradara Tony Broer di Studio Teater STSI Bandung pada 30, 31 Mei 2007 yang lalu.

Sore itu Tony Broer hadir bersama kelompok mahasiswa pra-produksi Studio Teater STSI Bandung yang ke-IV. Adapun pentas tersebut merupakan sebuah presentasi dari laboratorium Jurusan Teater STSI Bandung yang kali ini lebih memfokuskan pada eksplorasi tubuh yang di arsiteki oleh Tony Supartono S.Sn atau yang dikenal sebagai Tony Broer. Eksplorasi tersebut dilandasi suatu kesepakatan bersama “Dimulai dari proses berjalan dan menjadi apa saja”. Kelompok pra-produksi tersebut merupakan sebuah program pengenalan dan penggalian produksi teater yang (setengah) wajib diikuti oleh mahasiswa tingkat pertama di Jurusan Teater STSI Bandung .

Broer sang arsitek mencoba mengeksplorasi tubuh dirinya dan para aktornya sehingga menghasilkan lima bentuk eksplorasi tubuh. Sebut saja pada partisi awal dia menyebutnya sebagai tubuh waspada, lalu tubuh daging, tubuh protes, tubuh kupu-kupu, dan tubuh mata kaki.

Pada tubuh daging dia mencoba menggambarkan suatu bentuk kelahiran dan kematian. Lewat gesture yang sangat indah ia mengejawantahkan proses bayi lahir namun kemudian harus mati sebagai sasaran tembak. Teror muncul dari desing senjata otomatis pada video infra red yang di dapat Broer dari internet. Setiap geliat urat daging Broer seolah menjadi perlawanan yang estetis terhadap kekejaman yang penuh canda (terdengar suara pasukan Amerika Serikat menembak orang Irak dari teropong infra red seraya tertawa seyogyanya orang yang tengah terhibur). Dalam setiap kucuran keringat yang mengalir deras di tubuhnya, nampak usaha Tony untuk lahir menjadi manusia baru dan terlepas dari ke-antagonisan sejarah. Sesaat muncul tubuh-tubuh kematian yang di visualisasikan oleh Nanda Darius dan kawan-kawan, dengan wajah berbalut plester dan bunga-bunga.

Mereka para actor yang notabenenya masih mahasiswa baru itu memang belum mampu memperlihatkan satu kegetiran yang magis dari eksplorasi tubuh maupun rasa dan mimik seperti yang dilakukan oleh Tony. Wajar memang, berhubung Tony sendiri mengasah keaktorannya dan khususnya di bidang olah tubuh sudah sejak lama, bahkan ia sempat belajar mengenai teater tubuh ke negeri sakura bersama kelompok Teater Gekidan Kaitasha arahan Shimizu dan juga memperdalam Butoh dibawah arahan Kazuo Ohno & Yukio Waguri.

Satu hal yang menarik dari pentas tersebut yang saya pikir menjadi klimaks-nya adalah detik-detik berkibarnya bendera Amerika Serikat yang full menutupi screen background berukuran lebih kurang 3x4 m. Lalu Tony Broer yang hampir 75% wajahnya tertutup ‘brewok’ hadir berpakaian kebaya. Dengan berjalan mundur kea rah penonton ia menghadap gambar bendera AS yang besar itu seraya mengacungkan tangan kanannya dengan telapak tangan terbuka (nyaris seperti Hitler) dan menaiki sebuah meja. Dan selama prosesi tersebut berlangsung, dengan tegas musik “Jentreng” Tarawangsa khas rancakalong yang merupakan salah satu musik budaya sunda mengiringi setiap degup napasnya.

Tony menghentak kekuasan Amerika Serikat dengan gerak tubuh protes yang diusungnya. Dalam setiap “Jentreng” (bunyi dawai Tarawangsa yang dipetik), ia semakin menjadi sebagai bahasa protes atas kekuatan bangsa timur. Atau mungkin ia hanya ingin memperolok Tiran dengan gaya Hitlernya?. Bahkan dalam kecemasan yang mendalam gerak indahnya menginjak Helm (topi baja) perang AS sebagai satu metaphor perlawanan dan protes tubuh Asia atas keangkuhan AS beserta Bush nya. Pada akhir bagian ini Tony mencibir siapa saja yang me-legal-kan perang. Ia duduk dengan kaki menginjak Helm perang, dengan wajah tengadah menghadap bendera Amerika Serikat itu. Lalu gambar bendera tersebut dissolve to siluet burung yang terbang di tengah awan kelabu, sementara ditempat Tony berada sebelumnya nampak Senjata laras panjang otomatis berdiri kokoh dengan Helm diujungnya dan sepatu militer dibawahnya dalam bias lampu Spot.

Desing suara tembakan serdadu pemburu perang sudah tak terdengar lagi, maka mimpi akan kedamaian dan kesejahteraan muncul menjelma tubuh kupu-kupu yang melayang-layang dari para actor lainnya yang terdiri dari Nanda Darius, Aditamy, Maya, Aldino, Karlinda, Wail, Junaedi, Syami, Wanggi Hoed, Aprilia, dan Zamzams. Mereka mengejawantahkan kedamaian lewat tubuh kupu-kupu dalam kebebasan berdemokrasi ditengah senjata, helm, dan sepatu perang. Setiap gerak-gerik mereka nyaris melayang bagai keluwesan acting mereka yang eksploratif. Tapi sayang teramat sayang, ternyata kedamaian dan kemerdekaan hanya sebuah mimpi tidak lebih.

Pada partisi terakhir dari pentas tersebut kembali terdengar suara-suara bagai desing tembakan peluru, hanya saja kali ini Tubuh mata kaki yang bermain. Kaki para actor lelaki beralaskan Bakiak (Sandal terbuat dari kayu) yang dihentakkan ke lantai secara bertubi-tubi sehingga mengahsilkan suara yang bagai rentetan terror hujan peluru. Tubuh-tubuh itu menari laiknya gerakan butoh yang tengah getir. Tony ambruk seraya berucap bisu dalam dialektika tubuhnya itu….”Perang bisa dihentikan, tapi hanya sesaat…Namun suara anti perang harus tetap dikumandangkan walau dengan cara yang sederhana….!”

Dan tentu saja pentas tersebut adalah salah satu perlawanan terhadap perang yang dilakukan oleh seniman, tentu dengan kedamaian dan cara yang sederhana pula. Walaupun usaha Tony menggambarkan kegetiran dengan cara yang estetis masih belum tercapai, seperti multimedia yang akhirnya menjadi media penunjang saja yang justru mengejar emosional penonton belaka, sehingga pada beberapa bagian banyak visual multimedia malah mengalihkan perhatian penonton dari para actor dan khususnya Tony Broer yang memang banyak bermain solo. Dan hanya beberapa visual saja yang sekiranya berhasil bersetubuh dengan daya imaji para actor maupun penonton.

Bandung , 02 June 2007




rakoes012.jpg
  
rakoes013.jpg
  
rakoes014.jpg
  


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help