Pasca tsunami, tragedi hidup manusia bukan hanya sekedar cobaan dari yang kuasa... tapi kawah candradimuka bagi kita!
Setelah kejadian 26 Desember 2004 itu, Seluruh umat manusia di muka bumi seakan dicambuk untuk sekedar mengingatkan sikap nya atas bumi dan semesta.
segenap penghuni Buah Batu 212 (STSI Bandung) langsung turun ke jalan guna mengkoordinir penggolongan dana (membuka posko bantuan langsung) untuk korban gempa 9,8 sr dan Tsunami Aceh dan Sumut. Dimotori oleh Mapala Arga Wilis STSI Bandung dan Lembaga Tinggi Mahasiswa (LTM-BEM Kampus) dan HMJ - UKM. Seraya menggalang dana + memacetkan jalan buah batu kami pun menggelar aksi teatrikal dan live perform happening art agar para pengguna jalan merasakan derita masyarakat aceh. Setelah 7 Hari dana pun terkumpul puluhan juta maka kami belanja kan keperluan 1st aid kit, obat2an, pakaian layak, makanan dll, disamping bantuan dari sponsor yang kami bawa langsung ke aceh.
atas restu orang tua, pacar, istri, pihak rektorat & keluarga besar STSI Bandung kami pergi menuju aceh. Atas rekomendasi Tony Broer (dari Teater Payung HItam, Aktivis 98, seniman, kini dosen STSI bdg) kami berangkat dengan ongkos / biaya perjalan Bandung-aceh merupakan hasil sumbangan dari seniman bandung, dan para mantan aktivis Bandung khususnya KPMB (Kelompok Pergerakan Mahasiswa Bandung), Keluarga kami, keluarga besar STSI Bandung, Keluarga Besar Arga Wilis, dll. Namun kami menuju aceh tidak membawa "bendera" apapun hanya merah putih yang berkibar di dada kami dengan misi kemanusiaan, cinta dan nurani sebagai umat beragama.
yang diberangkatkan sebagai relawan cinta : 1. Yayat Phyton (Ketua Rombongan / Arga Wilis STSI Bandung) 2. Abdiana (Arga Wilis STSI Bandung) 3. Pepev Didin W (Arga Wilis STSI Bandung) 4. Astra Buah (Arga Wilis STSI Bandung) 5. Bobby (Lembaga Tinggi Mahasiswa STSI Bandung) 6. Wahyu "ujo" Joko (Teater Salikur / i-grek) 7. Rakhmat Koes/Rakoes (Keluarga Mahasiswa Teater STSI Bandung)
Lalu beberapa teman dari KPMB Bandung.
Sehari kami ngecamp di Jakarta bersama posko KMP Aestetica ISTN Jakarta. dan merayap menuju Medan. Di Medan kami merapat di Yayasan Leutseur Lestari Bang Didin & Bang Radjib. Lalu kami merapat dan membuka posko independent di Meulaboh.
|